Oleh : La Iba Fachri
Setelah menyelesaikan study di Madrasah Aliyah, aku (La Iba Fachri, pen) berniat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Sebelumnya aku mempertimbangkanya dengan matang dan melakukan shalat istikharah, memohon kepada Allah SWT agar aku tidak salah untuk memilih yang pada akhirnya akan melahirkan penyesalan. Sebenarnya saya ingin melanjutkan studi saya di jawa, karena saya piker jawa adalah merupakan daerah yang baik dalam mengmbangkan ilmu pengetahuan, namun itu semua tidak mungkin karena banyak hal yang menjadi pertimbangan.
IAIN Ambon adalah akhir dari pilihan saya. Dengan niat yang bulat dan semangat yang tinggi, serta restu dari orang tua dan kerabat dekat, juga motivasi dari teman-teman sekampung, maka saya berhijrah dari kampong saya Lombe (Sulawesi, pen) ke ambon dengan satu tujuan untuk mencari perubahan dalam diri saya yaitu kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Yang di harapkan sekembalinya saya nanti bias membawa sesuatu yang baru yang berikan untuk masyarakat di kampong saya (Lombe, pen) tentu bukan hanya gelar S.Pd.I tapi perubahan menuju kea rah yang lebih baik.
Banyak organisasi yang saya temui di IAIN Ambon, baik organisasi intra (LDK Al-Izzah, RACANA, MENWA, KSR, MAHIPALA) maupun organisasi ekstra kampus (HMI, KAMMI, GMNI, IMM, PMII) sebelumnya saya bingung kira-kira dari semua organisasi tersebut, mana yang lebih baik dan bias mengembangkan diri saya..?, setelah saya pertimbangkan, saya memilih LDK Al-Izzah (Lembaga Dakwah Kampus Al-Izzah, pen), yang pada awalnya hanya untuk mengisi kekosongan dalam berorganisasi.
Setelah mengikuti SII-1 (Studi Islam Intensif - 1, pen), saya mulai aktif mengikuti setiap rogram yang diadakan oleh LDK, mulai dari pelatihan-pelatihan dan kajian (liqo’) mingguan. Ternyata banyak hal baru yang saya temui di organisasi ini yang tidak saya temui sebelumya, terutama program liqo’at-nya yang saya rasa inilah cirri khas LDK Al-Izzah yang mana membuat organisasi ini lain dari pada yang lain. Dan yang paling menarik lagi yang membuat saya terus semangat mengikuti liqo’ adalah materi kajiannya, kami bukan hanya disuguhkan tentang materi fiqih atau ketauhidan, tapi juga ilmu yang berhubungan dengan Manajemen hidup, Manajemen pendidikan, social politik, ilmu pengetahuan kontemporer dan lain sebagainya. Karena kami sadar bahwa tidak ada dikotomi ilmu dalam Islam. Pada hakikatnya Ilmu itu satu.
Dalam mengikuti kajian (Liqo’, pen) Murobbi (Pembimbing, pen) tidak monoton menggunakan metode caramah, dalam artian Murobbi terus berceramah dan kami hanya setia terus pulang, namun kami banyak di beri kesempatan untuk aktif berdiskusi, beliau hanya sekedar mengarahkan selama proses kajian berlangsung, selain itu juga di isi dengan bedah buku, yaitu mengkaji buku-buku, menilai kelemahan dan kelebihan dari setiap buku yang di kaji. Di samping siraman-siraman rohani yang di berikan oleh Murobbi. Dan saya merasa saya akan berkembang, jika benar-benar mengambil apa yang di berikan di sini (Liqo’).
Dewasa ini, pakar pendidikan banyak membicarakan tentang beragam jenis inteligensi seperti: IQ (Intelektual Quotient) yang lebih menekankan pada kecerdasan intelektual, EQ (Emotional Quotient) yang lebih menekankan pada kecerdasan Emosional (interaksi sosial dengan sesama manusia), dan SQ (Spritual Quotient) yang lebih menekankan pada kecerdasan Spritual yang bersumber dari hati yang bersih dan hanya mengharap Ridho Allah SWT .
itu semua telah saya temukan selama saya mengikuti Liqo’. Dari beberapa orang teman saya yang mengikuti liqo’ semuanya berasal dari fakultas yang berbeda dan dari organisasi ekstra yang berbeda serta dari latar belakang dan suku yang berbeda pula, namun setiap orang dari kami tidak pernah menonjolkan organisasi yang dimilikinya, serta menjatuhkan organisasi yang lain, karena kami sadar bahwa kami satu (we are one) satu hati, satu jiwa, satu tujuan yaitu untuk meniggikan Kalimatullah dan Liizzil Islam wal Muslimun.
[Aa].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar